Al ummu madrasatun ula

Maret 23, 2010 pukul 4:04 am | Ditulis dalam cerita kita, dongeng/kisah, renungan | Tinggalkan komentar

Aku, memutuskan untuk cuti sementara dari bisnis OL ku. Dari jualanku. Untuk apa? Mau kemana? Pertanyaan kawan2 seperjuanganku. (xixixi..)

Jawabannya adalah mau bebenah.

Bebenah.. banyak yang harus kubenahi. Terutama, mengenai mendidik Raizan.

Kata2 Al Ummu madrasatun ula , ibu adalah madrasah pertama bagi anak, menuntutku untuk rehat dan evaluasi sejenak. Aku tak ingin dzolim padanya. pada dia, anak yang dititipi Allah. Anak yang menjadi amanah. yang kelak di akhirat, aku akan dimintai pertanggungan jawab atas dirinya. atas apa yang telah kutanamkan padanya.
seperti dalam sebuah hadits Nabi berbunyi,” Seorang lelaki itu pemimpin bagi keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya itu.” (HR Bukhari-Muslim).

masih menurut hadits Rasulullah,” Setiap anak dilahirkan suci/fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani ataupun majusi.” (HR Bukhari-Muslim).

Tiap hari aku memang bareng Raizan, ampir all d time. Tapi, ada sesuatu yang hilang dalam diriku, ”fokus”. Fokus pada Raizan yang hilang.

Di rumah ada flash card lungsuran dari teteh anjeli. Huahh.. beruntungnya ngga usah beli flash card yang harganya mahal tp, dapat pinjaman gratisan. Alhamdulillah. Dari 0 bulan Raizan sudah mulai diflash. Dan, umur 5 bulan, Raizan seolah sudah tau kata. Kata yang sudah pernah diflash tentunya. Aku coba ambil 2 kartu yang berbeda. Contohnya kartu tangan dan kaki. Lalu kupegang, satu di kanan, satu di kiri. ”Raizan, mana ya tangan?” dia meraih kartu bertuliskan tangan. Entah itu benar atau kebetulan, tapi beberapa kali dia terlihat hampir selalu benar menunjukkan kartu sesuai yang kusebutkan.

Tapi, setelah aku mulai disibukkan dengan bisnis OL ku, aku mulai banyak kehilangan momment. Alasannya Raizan sudah mulai menjelajah lebih aktif. Dia sudah tidak bisa konsen. Tapi, sebenarnya bukan itu saja lho. Justru, akulah yang tidah konsen. Hiks..

Lalu, aku cari-cari cara supaya dia mau konsen pada kartu yang kuflash.. akunya , diri akunya, mencoba lebih ”konsen dan fokus”. Hehe.. Aku kerahkan seluruh perhatianku. Aku kerahkan seluruh hatiku. Aku kerahkan seluruh cintaku. Aku belajar sabar pada setiap penjelajahannya. Aku belajar mengerti bahwa yang dibutuhkannya adalah permainan penuh cinta dan kasih sayang. Bukan sekedar belajar dan targetan-targetan. Bukan itu..

Mau diflash, dia mau jalan2 ke luar.. ok aku ikutin deh.. aku kejar2an… ketawa2.. nyanyi2.. gelitik2.. lalu, aku bawa ke kamar.. kutunjukkan kartunya.. alhamdulillah, berhasil 5 kartu dalam satu waktu. Alhamdulillah..

Oke deh.. tau sekarang.. aku harus lebih fokus.

5 tahun pertama adalah masa keemasan anak. Golden ages. Sayang sekali kalau terlewat. Itulah sebabnya aku sedang menata semuanya. Aku ingin mengajarkannya banyak hal. Aku ingin dia bisa jadi anak yang sholeh, cerdas, dan sehat tentunya. aku ingin membiasakannya bergaul dengan al-qur’an dan buku-buku terutama buku islami. Hm.. al ummu madrasatun ula. Aku ini sebagai ibu. Ibu adalah madrasah /sekolah pertama bagi anak. Aku harus mengajarkan yang terbaik untuknya.

Tapi, Aku ingin tetep bisa bisnis, tanpa melewatkan masa golden ages anak. Semoga aku bisa lebih maksimal.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.